Selasa, 10 April 2012

Pendidikan di Fhilipina


 Guru - digugu lan ditiru - dituruti dan diikuti (Indonesia tahun 1960 - 1980)

Guru - Pahlawan Tanpa Tanda Jasa (Indonesia tahun 1980 - 1990)

Guru - riwayatmu kini (Indonesia pasca Reformasi)


Tiga ungkapan di atas adalah cerminan perlakuan masyarakat Indonesia terhadap profesi guru. Di awal-awal masa bangsa ini membangun dirinya, profesi guru sangatlah dihormati. Demikian hormatnya masyarakat Indonesia pada waktu itu, sehingga lahirlah hari guru pada tanggal 25 November.
Hari guru tetaplah hari guru, namun penghargaan terhadap profesinya belumlah semeriah perayaan harinya. Di Indonesia, gaji guru terutama Guru Tidak Tetap (GTT) sangat-sangat memprihatinkan. Coba bandingkan dengan gaji para petinggi BUMN negeri ini yang kadang otaknya tak lebih dewasa dari kelakuan anak-anak SMP yang suka ribut dengan rekan kerjanya sendiri. Saya tak cukup berani menuliskannya, tapi Anda bisa melongoknya di situs ini dan di website resmi Harian Kedaulatan Rakyat. Coba Anda hitung, dengan gaji tak lebih dari 500 ribu rupiah per bulan, bagaimana mereka bisa mendidik anak-anak mereka ? Harus mereka kemanakan anak-anak mereka, sementara tugas mereka adalah mendidik anak-anak orang lain ?

Dahulu kala, guru di Indonesia terlihat sangat terhormat di mata negeri tetangga. Beberapa guru Malaysia berbondong-bondong untuk belajar ke Indonesia. Termasuk mempelajari cara bermain angklung, dan cara membuat batik tulis (yang belakangan justru di klaim oleh negeri tetangga itu). Beberapa guru seni dari Amerika berbondong-bondong belajar seni gamelan di Indonesia. Namun, pasca reformasi berdengung, nilai-nilai itu tergeser sedikit demi sedikit. Tak berlebihan, bila minat anak-anak bangsa menjadi guru sempat menurun saat awal-awal tahun 2000, meskipun kini berbagai usaha perbaikan dan tunjangan guru telah diupayakan oleh pemerintah.

Ada baiknya kita melihat budaya masyarakat Thailand dan bagaimana masyarakat Thailand memperlakukan seorang warga negara yang berprofesi guru di tengah masyarakat. Di Thailand, dikenal sebuah budaya yang dinamakan dengan “Wai Khru” atau “Menghormati Guru”. “Wai” sendiri memiliki makna “memberi salam” / menghormati lawan bicara mereka. Biasanya, mereka melakukannya dengan mengatupkan dua telapak tangan mereka untuk memberi hormat kepada lawan bicara mereka. Acara ini biasanya dilaksanakan di awal tahun akademik. Biasanya Wai Khru dilaksanakan pada hari Kamis di bulan Juni. Budaya ini terus dilaksanakan dan dimasukkan dalam kultur pendidikan dasar sampai dengan menengah atas. Selain karena alasan religi, menghormati guru adalah hal yang lumrah dan sudah seharusnya karena guru adalah salah satu unsur yang memberi warna dan arah dalam kehidupan masyarakat Thai. Demikian mereka memberi alasan, mengapa profesi guru sangat mereka hormati.

Dalam kehidupan sehari-hari pun, masyarakat umum sangat menghormati guru, bahkan saat mereka berada di luar sekolah. Saya sendiri, pernah disangka seorang “ajarn” / guru Thailand, gara-gara mengenakan kaus universitas saat pulang ke Indonesia dengan Air Asia Thailand. Akibatnya sang pramugari terlihat agak berlebihan memberikan salam / “wai”. Hanya gara-gara kaos saja.

Penghormatan ini bukan hanya omong kosong karena cerita berlanjut ke pandangan masyarakat Thai akan keluarga seorang guru (dalam bahasa Thai : khru atau ajarn). Menurut kultur masyarakat Thai, entah resmi atau tidak resmi, seorang laki-laki yang berprofesi sebagai guru sudah semestinya memiliki istri dengan profesi yang “sederajat” status sosialnya di masyarakat. Meski barangkali terlihat sangat naif, tapi di balik itu semua masyarakat Thailand sebenarnya ingin menyandangkan status “kepantasan” dan “penghormatan” kepada seorang guru.

Masalah kesejahteraan ? Sebenarnya sangat relatif untuk hal yang satu ini. Namun sejauh yang saya ketahui, belum pernah ada guru-guru di Thailand yang berbuat anarkis atau melakukan demonstrasi untuk menuntut kenaikan gaji. Artinya, se-korup apapun pemerintahan Thailand, mereka masih memiliki malu jika sampai menyia-nyiakan guru. Tak seperti para pejabat dan wakil rakyat Indonesia yang tak tahu malu. Di tengah-tengah gaji yang terus mereka naikkan sendiri dengan aturan mereka sendiri, mereka tega melihat para guru berdemonstrasi menuntut kenaikan gaji.


Akhirnya, kembali lagi ke masalah moral masing-masing pribadi kita. Benarkah bangsa ini adalah bangsa yang besar? Sudahkah Sampeyan (sekuat tenaga) membayangkan wajah-wajah guru Sampeyan di TK, SD, SMP, SMA dan dosen sampeyan di Universitas. Sudahkah sampeyan bersilaturrahim ke mereka di suasana lebaran ini? Tak perlu jauh-jauh studi banding ke Amerika atau Jepang. Lihatlah negara tetangga kalau ingin memunculkan rasa malu yang telah hilang entah ke mana.

Selamat Lebaran, MasDab. Semoga kita masih memiliki rasa hormat kepada guru !

komentar :

Siti Nur Elah subhanallah...
saia suka sekali artikel ini ...
guru,,,
memang ironi kalo kebanyakkan guru di Indonesia sekarang lebih "kekanak kanakkan" / "menjadi pelacur pendidikan" / "korban kepala sklh"
tapi ,,,banyak juga dari mereka yg sadar akan ahirat...
saia cinta guru gur saia yg seperti itu...
buka pelacur pendidikan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar