Sabtu, 28 Juli 2012

Kisah Sedih Seorang Ayah

Mungkin dari kisah ini kita bisa mengambil hikmah agar kita takan
menyia-nyiakan apa yang telah diberikan oleh sang pencipta. Oke deh kita
langsung saja baca dengan hati yang paling dalam Kisah Sedih Seorang
Ayah
dibawah ini dengan lengkap.

    Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus
    tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali
    kami pun wali hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami
    selesai. Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa dan
    salam sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur karena
    Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku sudah menginjak
    seperempat abad dan Kania di bawahku. Cita-cita kami sederhana,
    ingin hidup bahagia.



    22 tahun yang lalu, ...

    Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan
    keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya
    momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia bisa
    menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi baik hingga dia
    tampak sempurna. Kulitnya masih merah, mungkin karena ia baru
    berumur seminggu. Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan aku
    merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan
    orangtua Kania tak mau menerima kami. Ya sudahlah. Aku tak berhak
    untuk memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin, suatu
    saat nanti, mereka pasti akan berubah.

    19 tahun yang lalu, ...

    Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari,
    melompat-lompat atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari kursi ke
    lantai kemudian berteriak “Horeee, Iya bisa terbang”. Begitulah dia
    memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu merekah
    seperti mawar di pot halaman rumah. Dan Kania tak jarang berteriak,
    “Iya sayaaang,” jika sudah terdengar suara “Prang”. Itu artinya, ada
    yang pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca. Terakhir
    cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat dari tempat tidur
    ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental. Dan dia cuma
    bilang “Kenapa semua kaca di rumah ini selalu pecah, Ma?”

    18 tahun yang lalu, ....

    Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal dari
    pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek
    minta dibelikan bola. Kania tak membelikannya karena tak mau anaknya
    jadi tomboy apalagi jadi pemain bola seperti yang sering
    diucapkannya. “Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain bola!”
    tapi aku tidak suka dia menangis terus minta bola, makanya kubelikan
    ia sebuah bola. Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu
    sore. Dan seperti yang sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu
    kutunjukkan bola itu. “Horee, Iya jadi pemain bola.”

    17 Tahun yang lalu, ...

    Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. Mainnya
    di rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini.
    Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan
    bola di tas sekolahnya. Yang aku tahu, hari itu hari sabtu dan aku
    akan menjemputnya dari sekolah. Kulihat anakku sedang asyik
    menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin
    ketengah jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku
    mengalahkan kehati-hatianku dan “Iyaaaa”. Sebuah truk pasir telak
    menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya berhenti di atas dua
    kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi. Ya Tuhan,
    bagaimana ini. Bayang-bayang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa
    kaki, bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar barang
    dari perusahaan ke rumah konsumen. Kulihat Kania menangis sedih,
    bibir cuma berkata “Coba kalau kamu tak belikan ia bola!”

    15 tahun yang lalu, ...

    Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang pesangon habis
    untuk ke rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur.
    Kania mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya
    bisa membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala
    makanya cepat marah. Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis.
    Dan aku tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari ke luar
    negeri. Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk mencukupi
    kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan dia akan tetap
    pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia.

    13 tahun yang lalu,

    Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi
    itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi. Aku harus
    mempersiapkan uang untuk Kamila masuk SMP. Anakku memang pintar dia
    loncat satu tahun di SD-nya. Dengan segala keprihatinan kupaksakan
    agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. aku bekerja serabutan,
    mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku. Aku
    miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja
    dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi keadaanku
    mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku harus kuat. Aku harus
    tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar.

    10 tahun yang lalu, ...

    Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku. Dan Kamila
    hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar.
    Dia sering jadi bulan-bulanan hinaan teman sebayanya. Anakku cantik,
    seperti ibunya. “Biar cantik kalo kere ya kelaut aje.” Mungkin itu
    kata-kata yang sering kudengar.

    Tapi anakku memang sabar dia tidak marah walau tak urung menangis
    juga. “Sabar ya, Nak!” hiburku. “Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar
    tidak diganggu!” pintanya padaku. Dan aku menangis. Anakku maafkan
    bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku. Sejak
    hari itu, anakku tak pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku bahagia.
    Anakku, ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum
    padaku. Dia tidak pernah menunjukkan kekecewaannya padaku karena
    sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.

    7 tahun yang lalu, ...

    Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali
    menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku
    tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika aku masih menyimpan
    rindu untuknya. Dan itu pula yang membuat aku takut. Semalam Kamila
    bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia. Sulit baginya mencari
    pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP.

    Haruskah aku melepasnya karena alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah
    tua, tenagaku mulai habis dan dia ingin agar aku beristirahat. Dia
    berjanji akan rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal.
    Setelah itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha
    kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak kuasa untuk
    menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik saja.

    4 tahun lalu, ...

    Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir tiga tahun dia di
    sana. Dia bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya.
    Tapi Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk.
    Matanya tak pernah siratkan sinar baik. Dia juga dikenal suka
    perempuan. Dan nyonya itu adalah istri mudanya yang keempat. Dia
    bilang dia sudah ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering
    diganggu. Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang
    kubaca dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu
    hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku jangan pernah lupa salat
    dan kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk salat tahajjud. Tak
    perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti setiap bulan Ramadhan
    aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga beduk manghrib
    berbunyi. Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku. Dan aku
    bangga.

    3 tahun 6 bulan yang lalu, ..

    Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian pemerintahan
    Malaysia, kabarnya anakku ditahan. Dan dia diancam hukuman mati,
    karena dia terbukti membunuh suami majikannya. Sesak dadaku mendapat
    kabar ini. Aku menangis, aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut
    tak mungkin membunuh. Lagipula kenapa dia harus membunuh. Aku
    meminta bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari
    maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku selesai.
    Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku hanya bisa memohon
    agar anakku tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.

    2 tahun 6 bulan yang lalu, ...

    Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah. Dan dia
    harus menjalani hukuman gantung sebagai balasannya. Aku tidak bisa
    apa-apa selain menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi
    apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola
    apakah keadaanku pasti lebih baik?

    Aku kini benar-benar sendiri. Wahai Allah kuatkan aku. Atas
    permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia. Anakku ingin aku
    ada di sisinya disaat terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali. Dua
    matanya sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya
    kakiku tak ada. Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia
    berhambur ke arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan
    aku. “Bapak, Iya Takut!” aku memeluknya lebih erat lagi. Andai bisa
    ditukar, aku ingin menggantikannya. “Kenapa, Ya, kenapa kamu
    membunuhnya sayang?” “Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak.
    Iya tidak mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh
    dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak salah kan, Pak!” Aku
    perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib anakku. Masa mudanya
    hilang begitu saja. Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu
    menuntut agar anakku dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga
    orang terhormat. Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi
    anakku, tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di
    Malaysia selama enam bulan untuk memohon hukuman pada wanita itu.

    2 tahun yang lalu, ....

    Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan hadir
    melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada
    di belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya. Aku melihat isyarat
    tangan dari hakim di sana. Petugas itu membuka papan yang diinjak
    anakku. Dan ‘blass” Kamilaku kini tergantung. Aku tak bisa lagi
    menangis. Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan
    mereka, aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku. Dia
    menyibak kain penutupnya dan tersenyum sini. Aku mendongakkan
    kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat
    garis wajah yang kukenal.

    “Kania?”
    “Mas Har, kau … !”
    “Kau … kau bunuh anakmu sendiri, Kania!”
    “Iya? Dia..dia . Iya?” serunya getir menunjuk jenazah anakku.
    “Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar.”
    “Tidak … tidaaak … ” Kania berlari ke arah jenazah anakku.

    Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit histeris. Seorang petugas
    menghampiri Kania dan memberikan secarik kertas yang tergenggam di
    tangannya waktu dia diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya
    “Terima kasih Mama.” Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah
    tahu wanita itu ibunya.

    Setahun lalu, ...

    Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku. Yang aku
    tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir kudengar kabarnya
    dia mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan di samping kuburan anakku,
    Kamila. Kata pembantu yang mengantarkan jenazahnya padaku, dia
    sering berteriak, “Iya sayaaang, apalagi yang pecah, Nak.” Kamu tahu
    Kania, kali ini yang pecah adalah hatiku. Mungkin orang tua kita
    memang benar, tak seharusnya kita menikah. Agar tak ada kesengsaraan
    untuk Kamila anak kita. Benarkah begitu sayang?

    ~ o ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar